Sabtu, 10 Januari 2009

PEMBERDAYAAN PETANI

PEMBERDAYAAN PETANI

Program utama pembangunan pertanian (pada periode 2000–2004) menekankan pada dua hal pokok, yaitu:

(1) Program Peningkatan Ketahanan Pangan, dan

(2) Program Pengembangan Agribisnis.

Penekanan pada kedua program utama itu dapat dipandang sebagai penajaman dari program pembangunan pertanian sebelumnya. Dengan penajaman tadi peran sektor pertanian dalam pembangunan di masa datang diharapkan akan lebih baik lagi.

Ditetapkannya program ketahanan pangan sebagai salah satu program utama pembangunan pertanian merupakan hal yang wajar dan sudah menjadi suatu keharusan. Menurut Gohong (1993) masalah pangan memegang peranan penting dalam perekonomian. Gejolak harga pangan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap stabilitas ekonomi, karena jumlah permintaan total kita secara aggregat terhadap pangan sangat besar. Sebagai contoh untuk beras misalnya, apabila hanya mengandalkan pada suplai yang tersedia di pasar, maka jumlah yang kita minta akan melebihi 50% dari produk yang dipasarkan dunia.

Untuk keperluan itu paradigma ketahanan pangan sekarang ini paling tidak perlu mempertimbangkan empat indikator utama, yaitu:

(1) ketersediaan pangan,

(2) aksesibilitas secara fisik dan ekonomi (pemberdayaan ekonomi masyarakat),

(3) ketahanan terhadap resiko, dan

(4) aspek keberlanjutan.

Dalam paradigma baru ini, kecukupan dan ketersediaan pangan adalah penting, tetapi belum cukup menjamin ketahanan pangan bagi masyarakat. Walaupun pagu tersedia dengan jumlah yang cukup, tetapi jika masyarakat tidak memiliki daya beli yang memadai maka akan terjadi krisis pangan. Sistem pangan juga harus memiliki ketahanan yang cukup terhadap resiko penurunan produksi pangan sebagai akibat faktor alam, krisis keuangan, sosial, dan politik (Rusastra, dkk, 2002).

Untuk tercapainya program ketahanan pangan tentunya bukanlah suatu hal yang mudah. Jika ditelaah secara cermat ketahanan pangan tidak semata-mata masalah ekonomi dalam arti sempit, melainkan harus dipandang dalam kerangka kenegaraan yang lebih strategis, termasuk masalah stabilitas dan ketahanan politik, pertahanan dan keamanan nasional. Oleh karenanya penyelesaian ketahanan pangan tidak selayaknya hanya didasarkan pada perspektif perdagangan bebas. Sebagai negara yang memiliki sumber daya yang relatif besar dan bervariasi, peningkatan ketahanan pangan haruslah didasarkan pada penggalangan kekuatan sumber daya dari dalam, dan sekecil mungkin tergantung input dari luar negeri. Gejala krisis pangan beberapa tahun terakhir ini bukan semata-mata kegagalan produksi pangan nasional, melainkan kegagalan dalam strategi pendekatan yang digunakan. Strategi pendekatan baru ketahanan pangan menjadi suatu keharusan agar dirumuskan dengan seksama. Pendekatan dimaksud menyangkut beberapa hal yang terdiri dari:

(1) desain kebijakan,

(2) manajemen pembangunan,

(3) pelaku utama pembangunan,

(4) fokus komoditas,

(5) peningkatan keterjangkuan, dan

(6) perubahan perilaku keluarga.

Dari semua pendekatan dimaksud keberpihakan terhadap masyarakat nampaknya lebih dominan, hal ini dapat dipahami karena masyarakatlah tujuan akhir yang paling penting dari program ini. Untuk itu pemberdayaan masyarakat terutama petani sebagai salah satu ujung tombak kegiatan pertanian menjadi sangat penting sebagai salah satu komponen yang dapat menentukan keberhasilan program ketahanan pangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar